Masjid adalah “rumah” Allah swt. Manusia sebagai khalifah di bumi diberi tanggungjawab untuk memakmurkan masjid. Ukuran memakmurkan masjid yang sederhana adalah dengan melaksanakan sholat secara berjamaah di masjid. Sebagai contoh masjid Jogokaryan yang sedang viral itu, awalnya salah satu target yang ingin dicapai dalam upaya memakmurkan masjid adalah jumlah jamaah sholat subuh sama dengan jamaah sholat jum’at. Kemudian berkembang seperti yang ada sekarang ini. Di masjid kita, sholat shubuh dengan sholat jenazah ramai yang mana?
Semua kegiatan selain jamaah hanya sebagai perantara dan pendukung untuk memakmurkan masjid. Adanya ngaji, dibaan, mujahadah dan lainnya untuk membiasakan orang ke masjid. Dengan harapan masyarakat memiliki anggapan berangkat ke masjid bukan lagi sesuatu yang perlu ditakuti dan disegani atau bahkan suatu yang memalukan (na‘udzu billah).
Allah dan Rasul-Nya memerintahkan orang-orang mukmin untuk memakmurkan masjid. Bahkan Rasulullah saw mengistimewakan orang berkulit hitam yang ikut merawat masjid sampai meninggal. Dalam sebuah riwayat Imam al-Bukhary disebutkan :
“Dari shahabat Abu Hurairah ra, bahwasanya seorang pria -atau perempuan- hitam bermukim di masjid. Kemudian meninggal dunia, Nabi saw tidak mengetahui hal tersebut. suatu hari nabi menanyakan perihal orang tersebut, beliau berkata, “Apa yang dilakukan orang itu?”, orang-orang menjawab, “ Sudah meninggal ya Rasulallah”. Nabi bertanya, “Kenapa saya tidak diberitahu?” orang-orang menjawab, “begini.. begitu wahai Nabi”, orang-orang itu menceritakan keadaan orang hitam itu (seolah-olah mereka menganggap remeh statusnya)”. Nabi saw kemudian berkata, “Tunjukkan padaku Kuburnya”, kemudian Nabi saw mendatangi kubur orang itu dan sholat (jenazah) untuknya.” HR. al-Bukhari No. 1337.
Allah berfirman dalam surat at-Taubah : 18,
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan mendirikan sholat, dan membayar zakat, dan tidak takut pada selain Allah, semoga orang-orang itu termasuk orang yang mendapat petunjuk (hidayah).”
Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan ciri orang yang memakmurkan masjid adalah 1) Iman kepada Allah, 2) iman kepada hari akhir, 3) mendirikan sholat, 4) Membayar zakat, dan 5) tidak takut kepada apapun selain Allah. Pada tulisan ini akan dibahas dua dari lima ciri tersebut, mengingat waktu yang terbatas.
Allah swt menyebutkan ciri pertama orang yang memakmurkan masjid adalah orang yang beriman kepada Allah swt. Dalam arti setiap amal perbuatan, ibadah, atau kegiatan apapun yang dilakukan di masjid diniatkan hanya karena Allah swt. Kenapa? Karena hanya Allah-lah yang pantas menjadi tujuan semua amal kita. Tidak peduli siapapun imamnya, siapapun temannya selama itu kegiatan ibadah atau kegiatan yang mendukung ibadah harus dilakukan hanya karena Allah ta’ala (lillahi ta’ala). Maka tidak pantas apabila di sebuah masjid terjadi perselisihan, terjadi grup-grup atau geng-geng, kelompok-kelompok yang membuat masjid yang seharusnya menjadi tempat yang dicari untuk menenangkan hati, justru menjadi tempat munculnya emosi.
Dalam sebuah masjid pastilah di dalamnya terdapat berbagai macam orang, misal ormasnya (NU, Muhammadiyah, LDII, al-Irsyad, dll), ketika sudah berada dalam satu barisan sholat jamaah semuanya harus mengikut pada satu komando yaitu imam yang memimpin sholat tersebut. Jangan sampai di masjid sekarang ini terjadi seperti yang diceritakan Allah dalam surat At-Taubah : 107.
“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan". Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (107)
Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesung-guhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (108)
Orang yang mewakafkan tanah untuk masjid berharap pahala yang terus mengalir dari orang-orang yang beribadah di dalamnya. Namun akan sangat sedih bahkan mungkin menyesal telah mewakafkan tanah untuk masjid yang jadikan tempat untuk berselisih. Kenapa dulu tidak diwakafkan untuk kuburan saja? Setiap orang masuk tidak ada yang protes, tidak ada yang bertengkar atau berselisih.
Yang kedua, orang yang memakmurkan masjid adalah orang yang iman atau percaya dengan adanya hari akhir. Mengurusi masjid adalah pekerjaan sosial (walaupun seharusnya bisa dibuat profesional). Yang ada hanya -dalam bahasa jawa- kesel ro tombok (lelah dan terpaksa mengeluarkan uang). Maka sungguh, untuk mengurusi masjid dibutuhkan niat yang ikhlas dan meyakini bahwa di hari akhir nanti Allah tetap akan memperhitungkan amal orang yang mengurusi masjid, seperti halnya orang hitam yang dicari Nabi saw pada kisah di atas. mendapatkan keistimewaan, Nabi sholat jenazah di atas kuburnya. Dalam riwayat lain disebutkan Nabi berkata, “Sholatku atasnya merupakan rahmat”.
Untuk itu, marilah bersama-sama memakmurkan masjid-masjid Allah dengan banyak beribadah di dalamnya. Saat ini di sekitar kita sudah banyak masjid. Yang terbaru ada masjid Baitus Salam ngoto yang jaraknya hanya “sak kilan” dari al-Firdaus. Musholla at-Taqwa Tanjung yang baru direhab dan menjadi semakin wah bangunannya. Tidak menutup kemungkinan sebentar lagi akan menjadi masjid yang digunakan untuk sholat jum’at juga. Nabi saw mengingatkan:
“Dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah saw bersabda, “Hari kiamat tidak akan datang sampai manusia berlomba-lomba dalam (bangunan/fisik) masjid)”. HR. Ibn Majah No. 739.
Bagaimana dengan kita, Apakah kita ingin kiamat dipercepat dari jadwalnya?